-Soe Hok Gie-

cove-gieGenerasi 2000 mengenal Soe Hok Gie melalui film besutan Riri Reza (2005) yang dibintangi oleh aktor ganteng Nicholas Saputra. Mas Nico (gitu yaaah… saya menyebutnya) cakap sekali memerankan Gie. Saya sudah jatuh hati sama sosok Gie sejak membaca buku pinjeman dari mas Gus Muh “Catatan Seorang Demonstran”  jaman ketika saya masih muda dulu, terlebih sejak nonton filmnya sosok Gie divisualisasaikan oleh Mas Nico kok rasanya paaaas banget … hehehehe. Gimana enggak jatuh hati saya, pria pemikir dan super romantis ini selalu menuliskan apa yang ada di pikirannya (bahasa gahulnya adalah menulis diary gitu..) quotes-nya sangat mempengaruhi pola pikir saya. Puisi-puisinya tentang cinta, tentang alam, tentang manusia, tetang penguasa, tentang hidup, tetang Tuhan, semuanya tentang ekspresi dirinya yang melebur dan membaur dalam sukma seorang Gie telah mencerminkan bahwa Gie adalah sosok pribadi yang tidak ada toleransi atas ketidakadilan.

Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa” (catatan seorang demostran hal.101). Begitulah Gie, pergulatan pikirannya tentang berkorban, itu kritiknya buat rekan-rekan seaktivitas. Akhir menjadi seorang aktivitas adalah menjadi pragmatis atau kapitalis, ketika masalah ekonomi menjadi fokus pilihan.

Image result for soe hok gie

Soe Hok Gie

Siapakah sosok Gie itu?. Banyak sumber yang penyasar bisa ambil dari mesin pencari ulung yaitu Google. Sehingga tidak perlu saya ceritakan siapakah sosok Gie ini secara utuh. Pastinya Ia adalah penulis yang cukup produktif, mati muda, dan romantis. Ia seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian, kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983). Sempat buku ini menjadi buku merah yang dilarang untuk dibaca pada masa orba. 

Gie juga menyukai hal-hal yang bernuansa paradoksial, ini terlihat dari renungannya “Dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.”

Menurut beberapa literatur, Gie tumbuh menjadi sosok yang teguh mempertahankan idealismenya karena tidak jauh dari peran keluarga yang telah mendidiknya menjadi sosok yang kritis. Selain itu kegemaran membaca benar-benar mempengaruhi pola pikirnya. Dikisahkan, ketika Gie bersekolah di kanisius dan Universitas Indonesia, Gie muda sering menghabiskan waktunya untuk membaca literasi yang pada masa itu tidak lazim dibaca oleh anak muda seumurannya. Bahkan Ia telah membaca bukunya Pramodya Ananta Toer “Cerita dari Blora” sejak Ia masih di SMP (saya saja baca kenap bukunya Pram baru ketika kuliah tingkat awal- buku Pram pertamaku adalah Boemi Manusia). Dengan modal kecerdasan dan kejelian dalam membaca, buku-buku itu dengan mudah dan cepat diresapi dan dipahami. Gie sering sekali membaca buku idealis dan filsafat, ternyata dapat merubah pemikiran, karakter, watak seseorang, sehingga menghasilkan pemikiran baru dalam konteks tersendiri. Itulah Gie….!. Manusia merdeka, walaupun dosen UI, Ia masih memgang teguh kebebasan berfikirnya. Kalo dipikir-pikir ulang– semua pikiran dan ide penjelajah hanyalah cangkokan dari ide-ide orang lain. Tak ada satupun ide original– jadi ingat film Beautiful Mind- John Nash yang berjuang untuk mencari ide yang orisinal- walaupun menderita penyakit schizofrenia akhirnya ide orisinilnya mendapat anugerah nobel.

“Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta”

Sosok ini mirip banget sama Gie di benak saya.

Penggalan puisi Mandalawangi-Pangrango; saya ndak tahu maksudnya apa, tapi sepertinya kala itu Gie sedang merasa bimbang dengan istilah yang kerap dia sebut dengan emotional trouble. Walaupun pikiran dan ide Gie lebih banyak tentang politik, sosial, dan budaya. Ia masih sosok pria yang bisa terpengaruh dengan masalah cinta. Beberapa wanita sempat hadir dalam hatinya, dan Ia menceritakan kebimbangannya. Haih… rasanya ingin disayangi oleh seseorang seperti Gie, hahahaha… atau Mas Nic, siap2 saja bersaing dengan waktu dan pergerakan.

Nih.. puisinya pas Ia patah hati (deeeuuuhhh….. ) kalo saya— tak jaga baik-baik tuuuh…

Puisinya, “Sebuah Tanya” ; kira-kira penyasar kenal gak ya?

“apakah kau masih akan berkata//kudengar derap jantungmu//kita begitu berbeda dalam semua//kecuali dalam cinta”

Puisi ini konon ditulis Gie pasca galau karena bingung bagaimana harus mengungkapkan perasaan pada Ker (Kartini Sjahrir). Kisah cinta Gie memang agak misterius. Dia dikenal banyak memiliki teman dekat wanita, namun hanya Ker lah yang membuat Gie bimbang. Pada akhirnya Gie tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Ker. Teman dekat Gie, Ciil (Sjahrir) yang justru menikah dengan Ker. Ahaaaiiih…………….. begitulah seorang aktivis, tapi ndak bisa juga dibilang cacat cinta loooh yaaaa….

Gie merasa ndak perlu setiap perasaannya diungkapkan di publik- cukup diungkapkan melalui sajak saja. Hahahahaha… saya melakukan dua-duanya Gie…. publik juga dan sajak. Maruk yaaa… #pathdaily (jaman lebih moderen sekarang). Baginya merasakan cinta yang tulus cukup memusakan, ndak perlu ada balasan. Hick…. you just Upnormal Gie!

Kepribadian Gie yang sangat saya kagumi adalah Gie tidak pernah berada di wilayah abu-abu.

Image result for soe hok gieGie tidak pernah hidup di area abu-abu. Ia mempunyai jiwa tegas untuk menyatakan keberpihakan yamg menurutnya benar. Bukankah Ia manusia bebas?. Dan saya sangat iri dengan sosoknya bebas tanpa syarat: Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.  Dikisahkan Ia pernah tidak naik kelas sewaktu SMP karena memenggal otoritas seorang guru. Karena Gie merasa benar, Ia memilih untuk pindah sekolah: “Guru bukan dewa dan selalu benar dan murid bukan kerbau”. Ketika menjadi mahasiswa pun ia terkenal dengan aktivis garis keras dan tulisannya selalu tajam bernuansa “kekirian”. Itulah Gie baginya lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan. Sulit bukan menemukan sosok pria seperti dia di dunia yang penuh dengan hedonitas kekuasaan dan tuhan-tuhan dengan huruf t kecil.

Kala masih mahasiswa “mungkin” penuh dengan semangat youth movement- namun ketika kehidupan menuntut untuk lebih memikirkan lapangan kecil yang bernama “keluarga”, maka dibutuhkan perjuangan yang tak berhujung. Seperti kotak pandora. Kira-kira jika Gie masih hidup saat ini, seperti apakah pikirannya saat ini? masihkah sejernih waktu Ia masih muda atau melebur memgikuti arus globalisasi?. Saya sungguh penasaran.

Satu lagi- sekritis kritisnya Gie terhadap para penguasa, Ia adalah sosok Nasionalis sejati. Ia sangat cinta Indonesia. Kecintaanya terhadap Tanah Air ia wujudkan dengan membentuk Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Beda banget dengan para hikker saat ini (saya lihat-lihat yaaa….). Mendaki adalah saatnya untuk updates status dan selfie (termasuk saya sih… -Plak!!!).. [imbuhan: saya bener-bener ndak suka film 5 cm, banyak kecacatan dalam film itu— kapan-kapan saya review tentang film 5 cm]. Bagi Gie, mendaki adalah perang, bayangkan saja Gunung Gede Pangrango tahun 1960 an pasti kondisinya jauh sekali dengan saat ini (yaaaa… iyaaaalaaah… ndak usah dibahas kalo ini). Maksud Saya adalah, saat itu untuk mendaki gunung ndak ada treck yang jelas seperti saat ini. Perlu membuka jalur baru, memotong semak-semang, logistik dan equipmen yang disiapkan waah. Beda sama sekarang, saya kalo naik gunung itu, hanya modal day pack (seluruh perlengkapan camping sudah disiapkan.. hehehehe).

Gie mengutip perkataan penyair Amerika Walt Whitman untuk menjelaskan mengapa ia dan kawan-kawannya perlu naik gunung:

Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth

Haaaihhh… romantisnyaaaaa…… dan ini harapan saya untuk seseorang yang (mungkin) akan nyasar di blog ini:

Someday, I stand with you in the mountain
yeah…. we will.

Cita-cita Gie adalah mati muda, itu tertulis dalam buku hariannya, Ia mengutip sebuah perkataan dari filsuf Yunani: nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua”. Selamat jalan Gie…. cita-citamu untuk mati muda tercapai. Saya ndak pernah mengenalmu secara langsung, tapi saya sisipkan doa untuk kelapangan kuburmu. Kamu inspirator saya.

~Salam damai dari penjelajah~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation