Sederhana itu indah (sebuah cerita dari ) Ngabuburit @Kebumen

Memandang senja

Membidik senja

Bahagia itu sederhana, sederhana itu indah, dari kedua premis itu maka bisa diambil kesimpulan bahwa bahagia itu indah. Seseorang yang tidak merasakan bahagia, berarti ada yang kurang dengan apa yang ada di pikirannya, yaitu kurang bersyukur. Dalam cerita ini, ada sedikit “bumbu” untuk mempersedap alur, namun tak mengurangi kisahku, bagian dari penjelajahan spiritual tentang makna bersyukur. Penjelajahan spiritual selama kurang lebih 40 jam, mudah-mudahan saja aku sedang tidak berlebihan mengatakanya. 

Kamis, 23 Juni 2016
Dengan tergesa dan hati kemrungsung (udah jam 20.00) aku laju si Poetih dengan kecepatan sedang. Lantunan lagu -ruang rindu- nya Letto (diputerin berulang-ulang) tak mampu menenangkan kekemrungsungan ini. Gimana eggak kemrungsung, jam 23.30 harus sudah ngumpul di stasiun Senen dan packing(?!), aaarghhhh.. aku belum packing!!!.  Rute yang harus aku tempuh: Pondok Labu-Depok-(packing dulu)-stasiun Senen. Aku nyesel enggak mengindahkan nasehat salah satu kawanku yang mengatakan, “mendingan lo langsung ajah dari sekolah ke stasiun, lo tahu sendiri kalo taraweh kan paling selesai jam delapenan“. Lagi-lagi aku menyadari satu hal, bahwa sebuah penyelesalan itu letaknya pasti di belakang.

{Kuputuskan untuk mengikuti trip ini modus utamanya adalah mencari teman seperjalanan buat balik ke Jogja. Kebetulan aku belum punya tiket balik ke Jogja, jadi aku rasa ini kesempatan buat pulang. Kalo cari tiket sendiri langsung ke Jakarta-Jogja, pasti dapetnya tiket pesawat dan harganya melambung tinggi. Lumayanlah buat memangkas ongkos hehehehe… Cari tiket dari Kebumen ke Jogja pastinya lebih mudah lah, jika gak nemu kreta ya naik bus, toh jaraknya enggak terlalu jauh. Harga tiket Jakarta-Kebumen: Rp125.000; Kebumen-Jogja: Rp75.000; total Rp200.000. Jauh lebih murah dibandingkan jika aku harus memesan tiket pesawat minimal Rp1.000.000; kereta sudah habis untuk semua kelas. Bus?… hhmmm… alternatif paling akhir}

Tiba di kos bukannya langsung packing, tapi ngobrol dulu sama bapak security toko depan kos. Sebenernya pengen langsung masuk kos, tapi disapa seh, jadi yaaah.. ngobrol bentar aja dulu (padahal waktu udah nunjukkin jam 20.45 an) hadeeewww… Sebetulnya yang diobrolin juga biasa saja, seputar tumben udah pulang (eeeitttsss… bapaakkeee biasayah inyong pulang jam berapaaah?!); kok gak pulang kampung-kan sekolah udah libur (hooalaaah… patokannya ntuuuh anaknya yang udah libur seminggu yang lalu); trus curcol si bapak gak bisa pulang ke Cirebon lebaran ini-dan setiap lebaran juga memang enggak bisa pulang, soalnya kalo pulang– yang ngejaga sini siapa mbak?!. Hmm, alhasil baru jam 21.10 aku packing dengan tenaga the flash- lagian enggak banyak juga sih yang mo di pack hehehe… 10 menit juga selesai aku masuk-masukin barang ke tas (sebelunya list barang apa saja yang mau dibawa udah disiapkan- jadi enggak begitu repot lagi). Hoaam, masih ada 30 menitan buatku untuk tiduran sejenak sebelum jam 22.00 (aku perkirakan 1,5 jam cukuplah dari kos ke stasiun Senen. Sebentar check group Ngabuburit @Kebumen, aih.. sepi amat nie group- yowes.. artinya belum ada aktifitas yang cukup berarti. Ah, tiba-tiba aku merasa sungguh simpati dengan bapak security dan atau bapak/ibu yang lain yang berprofesi sebagai penyedia jasa. Berdasarkan obrolan dengan si Bapak tadi, praktis pekerjaan sebagai security di tempat kecil (toko misalnya) itu tak ada waktu untuk libur dengan alasan yang sungguh klise “kalo libur, siapa yang jaga?”. Kerapkali aku menggerutu, sebagai guru, jatah cuti itu hanya jika hamil dan menikah atau sakit (ini diluar rencana yaaah…enggak akan kita bahas kalo sakit). Kenapa aku harus menggerutu, lagipula guru khan liburnya banyak, lebih banyak daripada jatah cuti pada umumnya. Tapiii… kan liburannya selalu high session, jadi kalo jalan2 pasti kena tarif mihil. Bercermin dari si Bapak tadi, aku merasa jauh lebih beruntung. Aku bisa menikmati liburan dengan waktu yang lebih leluasa dan lama – masalah ongkos itu tergantung daripada caraku untuk mengelolanya to. Aku masih bisa bercengkrama dengan kawan-kawan dan keluarga. Ah, mengapa sulit sekali untuk otomatis bersyukur yaaa…..

Bip bip bip… alrm HP udah teriak-teriak nie… wokeeeeh…. cuci muka+gosok gigi+minum+matiin skalar lalu angkat ransel. Ready to go..! This is my first adventures  in the Holy Month. Mau tahu gak apa aja sih isi ranselku (?); menurutku masih belum simple, tapi okelah, ini isinya: kaos 3 pcs, celana panjang (bahan kain) 2 pcs, underwear 3ps; mukena lipet; dan toilette — semua itu pas di ransel 20 literan.  Hooo.. taxi online udah tiba.
+ Mbak mau lewat tol atau jalan biasa?.
– Biasa aja mase, lewat lenteng trus luruus pasar minggu.. (aku pakai feeling nie… semogaaa jalanan biasa enggak macet- kalo lewat tol muter juuauuuh… jam 23.30 boooo… ini udah jam 22.25)
+ Mbakke kasih arah-arahannnya yaaa…
– wokeh… mase… (dalam hati, piyeeee toooo .. wes sini wae po aku yag nyetirin- mosok sopir gak tahu jalan).
Hmm… ongkos taxi online Depok-Stasiun Senen (Depok-Lenteng agung-Pasar minggu-Kalibata-Dewi sartika-Matraman-Stasiun Senen) Rp75.200.  Pas sesuai dengan perkiraan.

Sesampainya di stasiun Senen, baru terlihat sosok Mirza- Hmm… ketua rombongan belum sampai nie rupanya. Kira-kira jam 23.30 an kita berenam baru bisa ngumpul. Nah, mari aku perkenalkan tim ngabuburit yang beranggotakan 6 orang; yaitu (1) Ceca- anggota termuda, lahir kira-kira 12 tahun yang lalu. Wow, properti yang dibawa Ceca adalah kamera DLSR Canon (tipe lupa) dan seperangkat tripot yang beraaat, serta satu ransel yang berisi perlengkapan pribadinya- jadi ada 3 tentengan (ada yang lebih rempog dari aku…. ^_^). (2) Aziz-kali ini sebagai tuan rumah yang akan kami tuju. Host yang akan kami tinggali selama 3 hari 2 malam ini adalah rumah neneknya Aziz. Kebetulan jarak rumah nenek Aziz dengan pantai sekitar 2 km. (3) Rony- ketua rombongan ngabuburit Kebumen yang ngurusin semua keberangkatan kami. (4) Mirza, bisa dibilang dia seksi dokumentasi- kamera yang dibawa saja sampe 2 jenis, kamera pocket dan DLSR. (5) Fikri- dari tripot miliknya aku baru tahu kalo ada tripot yang enteng, Fikri paling simple bawaanya, selain kamera yang dibawa juga cukup ringkes. dan (6) Aku eh Ika, I am the only women in this group. Bawaanku adalah ransel, tentengan tas kamera, tentengan tas pasar yang isisnya benang rajut dan makanan buat sahur. Selanjutnya aku menyebutnya group kecil ini dengan sebutan Power Rangers; sebutan ini buat mempermudah saja untuk memberikan julukan “kami”.

Stasiun Sen20160623_232530en terkini, jangan sekali-kali membayangkannya seperti 5 tahun yang lalu. Pedagang asongan berkeliaran untuk menjajakan dagangannya; pengemis yang ada di setiap pojok; anak-anak kecil yang tereksploitasi; dan segudang permasalahan sosial-ekonomi yang kerapkali membuat tidak nyaman. Bahkan (terkadang) bisa tuh bayar “tiket” di dalam gerbong a.k.a sebagai penumpang gelap. Sehingga, jumlah penumpang kereta ekonomi-bisnis bisa melebihi kapasitas tempat duduk yang disediakan.

Sekarang, untuk masuk ke stasiun, penumpang harus menyiapkan tiket dan KTP, petugas akan men-scanner tiket dan mencocokkannya dengan identitas (kurang lebih mirip chek in di bandara), jadi dapat dipastikan penumpang akan mendapatkan tempat duduk. Berhubung karena Ceca belum memiliki KTP sendiri, jadi Ceca butuh orang dewasa yang bertanggung jawab Dulu, ini dulu yaa.. waloupun memiliki tiket belum tentu dapat tempat duduk loooh… kalo mau duduk, butuh goceng buat joki pencari tempat duduk.

Masuk gerbong pun, penumpang kelas ekonomi disambut oleh pramugari kereta. Selain itu, di setiap gerbong kereta dilengkapi dengan AC yang duuuingin dan pintu otomatis. Kamar mandi- totally different with the past. Enggak wangi siiih… tapi setidaknya gas amonia yang tercium tidak terlalu menyengat ^_^. Kekurangannya hanya satu- yaitu tempat duduknya masih ceng-ceng ai, duduk dengan posisi punggung super tegak. Biar punggung gak pegel, aku sewa bantal- harganya belum berubah sejak dulu kala… masih goceng ^_^.

Opiniku tentang stasiun kereta kelas ekonomi-bisnis sungguh teratur. Hmm… tapi sejenak aku duduk di dalam gerbong kereta ekonomi terbesit kerinduan atas ketidakteraturan dan keriuhan suasana gerbong ekonomi. Gerbong yang pengap dan penuh sesak dengan penumpang serta pedagang yang sibuk mondar-mandir menawarkan dagangannya. yang anget…yang anget… cang
kacang…cang kacang…cel…pecel… peceleeeeee.
  Sesekali aroma liar dari kamar mandi tercium- palagi kalo kereta sedang berhenti, wuuuaaah…. aduahi dah!. Dan berhentinya kereta bisa berjam-jam tergantung dari antrian rel (kelas ekonomi harus mengalah dari bisnis dan eksekutipe).

Aku sebangku sama Ceca, he just look like my son. hahaha…. perjalanan 6,5 jam tidak terasa. Aku gak merasa pegel maupun capek- gak ada keluh kesah terucap dari bibirku. (curious, I wanna know why?).

Jumat, 24 Juni 2016

20160624_082034

Tim Power Rangers turun di stasiun Gombong rupanya (dan sekali lagi aku buka map “Oh, Gombong-Kebumen deketan yaaa….). Karena perjalanku dari Kebumen eh Gombong langsung berlanjut ke Jogja, biar gak repot- aku pesan tiket kereta dulu. Dan wahai para
penyasar… tahukah kalian bahwa di stasiun Gombong (cukup kecil – sangat kecil) memiliki mesin pemesan tiket seperti gambar di samping. Sungguh praktis, aku membayangkan bahwa aku sedang berada di sebuah kota kecil Gomybong di negri yang dipenuhi dengan makhluk-makhluk beraneka jenis dan….. hayah!. Pokoknya… super wahid dah! stasiunnya JUGA BERSIH….seperti di Indonesia (ini bukan sarkasme loooh yaaaa…). Aku gak tahu cara kerja mesin ini, yang pasti cukup pencet sana pencet sini pilih tujuan dan waktu yang sesuai. klik enter ..eng i eeeng… langsung muncul nominal biaya yang harus dibawar, siapkan uang pas, kalo enggak punya ada petugas yang ramah dan baik hati bersedia menukarkan uang. Aaamaaan… tiket ke Jogja sudah ditangan. Seep dah!

Dari stasiun ke rumah neneknya Aziz dilanjutkan dengan angkot dengan jarak tempuh kurang lebih 45 menit. Lagi-lagi, aku gak merasakan pegel, padahal kaki ditekuk selama 45 menit dan seharusnya udah kesemutan. Tetapi, I enjoy this moment. Tim Power Ranger sebenernya enggak terlalu banyak cerita, kalo ngomong juga relatif dalam frekuensi pendek serta amplitudo cukup lemah. Tapi hangout  bareng tim ini menyenangkan- “dalam sepi aku bahagia”- ini tag line yang aku kasih untuk moment ini.

mrepeli jagung

Hai para penyasar… masih betah ngebaca kisahku? .. Masih?!. terimakasih … hehehehe…

Tentu kalian tahu gambar apa disamping. Ya!, itu gambar jagung atau Zea mays. Ini merupakan salah satu makanan pokok untuk orang Indonesia (begitulah informasi yang aku terima ketika aku bersekolah di SD dua puluh lima tahunan lebih yang lalu). Namun, kalo dipikir-pikir lagi, Indonesia bagian mana ya?. Aku orang Indonesia, belum pernah tuh makan nasi jagung. Ah, Indonesia kan luas… Kalo para penyasar sudah ada yang pernah makan nasi jagung?. Gimana sih rasanya?.. sepertinya enak deh..

Kira-kira, tim Rangers sampai di rumah neneknya Aziz jam 10.30 an. Karena kami semua sedang berpuasa, jadi enggak ada ritual sampai rumah langsung disuguhin minuman yaaa… Cuaca saat itu sangat panas, tenggorokan hanya dialirin cairan saliva. Ngeliat pohon pepaya berjenis pepaya California dan pohon kelapa, sepertinya segaaar kalo makan pepaya dan minum air kelapa. Oke, pending buat menu buka puasa ^_^. Tim Rangers siang ini sebelum menuju pantai buat hunting langit, membantu nenek untuk mrepeli Jagung. Buat Ceca, ini dalah pengalamannya yang pertama kali. Hmm.. bisa jadi buat yang Rangers yang lain juga. Mrepeli jagung itu suatu aktivitas melepaskan biji-biji jagung dari bonggolnya. Keliatannya mudah, tapi ternyata tidak semudah kelihatannya. Sebetulnya yang sulit itu ketika di awal-awal, memulai untuk mreteli, si biji-biji jagung itu sangat rapat antara satu biji dengan biji lainnya. Sehingga terkadang kita butuh bantuan pisau untuk mencogkelnya lalu dipritili satu demi satu, nah.. kalo sudah ada jalannya tuh.. aktivitas mreteli menjadi lebih gampang. Ceca pun berfilosofi tentang jagung; “untuk memuliai itu memang sulit, tapi enggak ada yang gak mungkin untuk dilakukan”. Begitulah kira-kira…

Awalnya aku kira, si biji-biji jagung itu akan di olah menjadi nasi jagung. Eee… rupanya tidak. Sekarang udah jarang orang yang mengkonsumsi nasi jagung…”itu jaman dulu, kalo orang masih makan nasi jagung“, begitu kira-kira informasi dari bibinya Aziz. Lantas, biji-biji jagung ini dimanfaatkan untuk apa ya?. Oo, ternyata biji-biji jagung ini dijual di pabrik pengolahan makanan ringan dan makanan ternak khususnya ayam- karena buat campuran dedak. Dedak itu makanan favorite untuk ayam (mungkin) loooh.. Ohya, ternyata antara bekatul dengan dedak itu berbeda loooh. Bekatul dihasilkan setelah melalui beberapa proses. Bila gabah dihilangkan bagian sekamnya melalui proses penggilingan (pengupasan kulit), akan diperoleh beras pecah kulit (brown rice). Beras pecah kulit terdiri atas bran (dedak dan bekatul), endosperm, dan embrio (lembaga). Nilai gizi dari bekatul ini konon kabarnya sangat tinggi. Dulu nie yaaa… yang namanya bekatul itu mbah aku belinya bersak-sak buat pakan ayam. Sekarang dikemas baik dan dijual di apotek atau supermarket besar dengan harga yang tak murah lagi.

Membantu Nenek mreteli jagung sudah, tidur siang sudah… kemudian sekitar jam 16.00 tim Rangers siap-siap untuk menuju pantai. Jarak antara rumah dengan pantai sekitar 2 km. Tim Rangers menggunakan armada Tossa. Wuiih… aku kira menyetir tossa itu gampang. Ternyata susah yaa… hahaha…

Waaaah…. aroma pantai sudah terciuuuum… “aku jadi anak pantai, tapi hanya sementara. Aku jadi anak pantai tapi20160624_163737 kali ini saja“- minjem liriknya cah reggae- cuaca cerah.  Seperti private beach,  para Rangers udah mulai pasang perangkap constelation alias kamera. Aku… yoi, aku bener-bener menikmati suasana senja ini. Pasir pantainya enggak putih tapi enggak item banget. Bulir-bulirnya enggak terlalu halus dan bukan kumpulan dari serpihan cangkang kerang. Para yuyu eh kepiting keluar masuk dari pasir, bisa ribuan kalo mo iseng ngitung jumlahnya. Mirip banget deh.. dengan yang ada di film Pirates and the Caribbean. Lupa edisi yang mana, pokoknya yang kejebak di botol, hmmmm… kalo enggak salah On Stranger Tides. Ituu loooh… pas si Jack nyari Black Pearl.  Okelah… kita enggak sedang ngobrolin tentang Om Jack Sparrow to… Bedug enggak terdengar hingga ke pantai. Dengan mengandalkan jadwal dan jam lokal (kenapa enggak lihat ke matahari saja?— itu dikarenakan…. kita enggak bisa nguukur derajat terbenamnya matahari– emang iyaaaa…. — apaan sih…?!. sepertinya lebih pede kalo lohat jadwal yang udah ada dan lihat ke jam HP). Hehehe… namanya juga amatir.

Menu buka sore itu, cukup sederhana. Roti, kurma, dan air mineral. Semua menu itu adalah menu lebihan sahur di kereta. Alhamdulillah… puasa hari ini dilewati dengan sangat mudah. Awalnya aku mempredeksi, kalo gini gimana, kalo gitu gimana… trus nanti antisispasi ini itu… gimana… hadeeewh.. rempong dah. Melalui momen ini ada hal yang bisa kupetik sebagai pelajaran dalam hidupku. Aku ngutip quotes yang menurutku merepresetasikan hidupku ” Life is not complex.We are complex.  Life is simple, and the simple thing is the right thing”.―Oscar Wilde.

Pas kita kecil, hidup itu terasa sangat mudah. Tetapi semakin beranjak dewasa, kok rasanya semakin komplek ya. Hmm atau kelihannya seperti itu?. Karena sejatinya, hidup pun masih mudah di saat kita dewasa. Intinya adalah bagaimana kita bersyukur dengan segala apa yag kita peroleh dan kita kerjakan saat ini. Bersyukur (Gang En), ketika kita bisa bersyukur, maka kesulitan apa pun itu akan menjadi mudah untuk dijalani. Karena mudah sulit itu hanyalah penampakan yang terekam dalam otak kita. Otak kitalah yang mengatur organ-organ untuk saling berkoordinasi bagaimana menyikapi suatu masalah. Maka, jika dalam otak kita berisi hal-hal yang baik (positive thinking), masalah rumit akan menjadi nampak mudah.

Itulah, seklumit perjalananku ngabuburit ke Kebumen. Simple- tapi bermakna. Terimakasih buat tim Power Rangers, nenek dan bibinya aziz, mas Aris (driver Tossa). Banyak hal yang aku amati dari kalian yang sedikit banyak aku kutip sebagai pelengkap puzzle dalam hatiku yang kosong. -Salam Penjelajah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation