Merdeka(!) atau Merdeka(?)

Image result for chairil anwar antara krawang bekasi

Siapa yang tidak mengenal sosok foto hitam putih di atas?. Si “Binatang Jalang”- itu julukannya, sosok pria yang khas memiliki paras Sumatra ini memiliki sorot mata tajam dan rasanya, dalam sepanjang hidupnya sebatang cigerate selalu terselip diantara kedua jari telunjuk dan jari manisnya. Ya, dialah Chairil Anwar, seorang pensajak legendaris yang selalu mengisnpirasi untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui ketajamannya dalam bersajak.

“Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami”

Siapa yang tidak mengenal penggalan puisi diatas?. Ya, salah satu karya Chairil Anwar yang mencerminkan kepedualian Chairil terhadap nasib bangsa bertajuk “Krawang-Bekasi”. Sajak ini disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948). Chairil memang tidak pernah mengangkat senjata di jamannya, tapi melalui ketajaman pena yang telah dituangkan ke dalam sejumlah sajak-sajaknya menunjukkan bahwa Chairil begitu kritis dalam membaca kondisi terkini saat itu. Itu yang bisa dan telah Chairil lakukan untuk bangsa ini.

Sumber. googling

Sejarah mencatatkan bahwa kemerdekaa Bangsa Indonesia diperoleh bukan dari  pemberian, namun rakyat Indonesia merebut kemerdaan itu, dan diikrarkan dengan sangat lantang oleh Bung Karno pada Jumat, 17 Agustus 1945 jam 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur No.56 (saat ini menjadi tugu proklamasi). Tujuh puluh satu tahun telah berlalu semenjak proklamasi pertama kali dikumandangkan oleh presiden pertama negara ini. Artinya rakyat Indonesia telah menikmati hasil dari kemerdekaan yang telah diperjuangkan dan direbut dengan pengorbanan hingga titik darah penghabisan.

Indonesia setelah 71 tahun merdeka. Kita yang hidup dan lahir pada jaman pasca ’45 tentu memiliki makna yang berbeda dari kata merdeka yang pernah mereka teriakkan, MERDEKA!!!. Pernah tidak penyasar membayangkan berada di moment itu, dengan gemuruh dada yang membuncah, tidak takut mati, semangat membara, berteriak hingga urat leher terlihat meneriakkan kata merdeka. (mungkin- seperti sedang meneriakkan GOOOAAAAL…. di area gelora Bung Karno saat nonton pertandingan AFC tahun 2008 yang lalu).

Jika penyasar amati, apa yang khas dari perayaan kemerdekaan di negara tercinta kita ini?. Kalo di kampung saya , pinggiran kota Jogja, peranyaan malam tujuhbelasan diisi dengan tirakatan se-RT dengan setiap rumah boleh membawa menu makanan yang bisa dimakan bareng-bareng (bahasa kerennya potLuck). Ohya, seminggu sebelum perayaan kemerdekaan biasanya ada gotong royong bersih-bersih balai RW atau lingkungan RT sekitar, selain itu lingkungan kampung juga lebih meriah dengan hiasan bendera merah-putih dalam berbagai ukuran. Rasanya hal wajib untuk setiap rumah memasang bendera merah putih selama dua minggu di bulan Agustus ini. Nah, pas hari H nya, berbagai perlombaan seperti lomba makan krupuk, masukin paku dalam botol, kelereng, kadang ada panjat pinang atau pawai kemerdekaan turut menyemarakkan hari kebebasan Bangsa Indonesia ini. Biasanya aktivitas di kmapung baru akan dimulai setelah anak-anak atau remaja pulang dari sekolah untuk mengikuti upacara tujuhbelasan. Di kampung saya, tradisi ini masih awet hingga sekarang.

Wahai penyasar, cukupkah kita memaknai 17 Agustus ini hanya dengan peranyaan-peranyaan atau upacara(?). Benarkah kita sudah benar-benar merdeka(?). Melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, dimana setiap individu atau golongan kok rasanya masih ada aroma egoism atau merasa nyaman berada di kondisi status quo, masih cukup bangga menduduki posisi strategis untuk berbuat sesuka hati. Disisi lain, masih ada yang merasa tertekan, atau merasa tertindas, atau merasa tidak memiliki ruang gerak yang cukup, atau merasa tidak dapat menikmati produk dari kemerdekaan. Lantas, cukup lantangkah kita meneriakkan merdeka secara serentak, atau bahkan ada sedikit keengganan dalam hati untuk berteriak NKRI HARGA MATI, MERDEKA !!!!.

Merdeka bagi suatu bangsa bermakna berhak untuk menentukan aturan dan cara hidupnya sendiri. Bangsa yang merdeka meninggikan harkat dan martabat bangsa diantara bangsa-bangsa lain. Bangsa yang merdeka mempunyai kesempatan untuk membuat sejahtera dan bahagia seluruh penduduk di wilayah negaranya. [Mempunyai kesempatan… artinya “kesempatan” itu bisa diambil atau bisa juga tidak to?!]. Keberlangsungan bangsa ini diatur oleh UUD 45 yang telah disusun oleh BPUPKI dan hingga tahun 2016 telah mengalami amandemen sebanyak 4 kali. Salah satu pasal dalam UUD 45 tersebut memuat janji negara untuk menjamin keberlangsungan hidup seluruh rakyat bangsa Indonesia dalam taraf kesejahteraan, kebebasan berpendapat, dan lain-lain. Namun, apakah taraf kesejahteraan rakyat Indonesia telah diperhatikan secara khusus atau hanya menjadi harapan semu (fenomena KJP diterbitkan seiring dengan melambungnya biaya pendidikan). Ketika kritis itu diarahkan kepada orang yang memiliki kedudukan– akibatnya adalah “pencemaran nama baik”. Ketika sebuah restoran di hotel berbintang lima selalu membuang sisa makanan di tong sampang, tak jauh dari lokasi itu sebuah keluarga yang tinggal dalam gerobak hanya mampu makan nasi warteg sbeungkus untuk berlima. Ketika sekelompok pelajar sedang bercanda gurau dengan kekayaan orang tuanya, tak jauh dari mereka ada sekelompok anak yang sedang berjuang membantu orang tuanya mengais-ngais rejeki.

Merdeka bisa bermakna sempit dan luas. Setelah tujuh puluh satu tahun pasca kemerdekaan ini, masih adakah jiwa-jiwa yang dapat berkorban darah untuk mempertahankan kesatuan Negara Republik Indonesia ini?. Apakah masyarakat di perbatasan sana mampu menetabkan hati, bangsa mana yang akan dibela?.

Sebuah pikiran kritis yang terlontar dari muridku, “Ibu, mengapa kita harus membela negara ini mati-matian, mengapa kita tidak berjuang bersama saja untuk menjadi warga dunia yang baik?!, mengapa kita harus mempertahankan teritory yang alangkah lebih baik bila saling kerjasama untuk menciptakan sistem kehidupan yang mendunia. Bukankah setiap negara memiliki permasalahan yang hampir sama. Mengapa negara X dan Y harus berperang?”. Lalu,  muridku mendatangiku untuk membisikkan sesuatu kepadaku. “Ibu, ketika ibu memintaku untuk menuliskan makna merdeka… merdeka(?) atau merdeka(!)”. Sontak aku sangat terkejut dengan bisikannya. Dia muridku yang tidak bisa menentukan pilihannya untuk tetap memilih jurusan yang diinginkannya.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-71
SEMOGA AKAN TETAP MENJADI BANGSA YANG BESAR

~Salam dari Penjelajah~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation