Melangkah diatas awan, ketika …

mejeng dulu di warung.(Doc.pribadi)

[Ini kisah 9 tahun yang lalu- pernah diposting di www.colorpul.blogspot.com]

Pemandangan di Sawunggalih, Puncak di pagi hari membuat suasana hati ingin selalu adem..nyeeesss, ketika bisa keluar dari aktivitas rutin. Diatas ketinggian yang gak lebih dari 1200dpl gumpalan awan putih menutupi kota Bogor tampak jelas dari sini… jadi yeah…semacam berjalan di atas awan lah…untung aja yang menggumpal bukan awan Cumullonimbus–bahaya nie…soalnya awan jenis ini bisa menjadi calon badai.

Nyesnya itu disini nie… Ketika selalu ingin berandai-andai, maka aku mengandaikan “andaisaja pemandangan indah ini bisa dilihat bareng ma die…ingin rasanya kurauk awan ini dan kujadikan syal lalu kulilitkan di lehernya“. Hahahkakakawaaakakak… (dangdut meneh yo…).

Kami baru berangkat dari Condet jam 7 pm, tim susulan ini cuma bertiga (Mansur, aku yang pake celana kebanggan- loreng, dan Dwi), naek motor. Sampai Puncak, udah malem sekitar jam 10pm, trus ngecamp di teras SD semalem sebelum ngelanjutin perjalanan dengan jalan kaki. Pagi hari sebelum nganjutin masuk ke hutan, sempetin sarapan di warung yang ada di deket SD. Menu sarapan pagi itu…menu balado dan tempe goreng, wuiiih… ini makanan mewah terakhir sampai 2 hari kedepan.

Perubahan suhu yang amat drastis, siang sangat menyengat dan malam suaaangat dingin bikin kulit mengelupas dan parahnya kulit mukaQ jadi guooosooong…setelah turun gunung, buanyak yg bilang bE, pake ponds donk…pake ponds…(ini bukan Iklan).
walah… mo ponds kek, mo apa kek…yg namanya gosong bcos of ultraviolet butuh waktu yg gak sedikit untuk memulihkannya.(red: mang dari sonona dah item…koq) xixixixi….

There is a best place to contemplation; where? Yups, in the middle of forest.(Doc.pribadi)

Ketika kamu sudah tidak ada semangat untuk bekerja atau melakukan aktivitas rutin maka pergilah ke hutan atau laut. Menjadi guru, bukan berarti tidak akan pernah terjebak dengan aktivitas yang rutin loooh. Menjadi guru membutuhkan pikiran yang jernih untuk dapat mengkreasi agar materi yang disampaikan tidak membosankan to?!. Guru juga perlu sebuah perjalanan, bukankah dengan perjalanan  seorang guru akan semakin kaya dengan konten?!.

Terlepas dari itu, aku memang butuh refreshing. — biasanya untuk melepaskan penat aku lari ke gunung. Walaupun (ternyata) alam gunung kurang begitu ngedukung aku untuk melepaskan, merefleksikan otak-pikiran-jiwa-raga menuju keseimbangan yang aku cari. Kenapa? Justru aku menjadi sakit setelah itu, akibat dari mengkonsumsi sesuatu yang TIDAK BAGUS. Lalu, ooh..ada yang ngajakin mancing, well…boleh juga tuh…ternyata “mancing” juga bukan media tepat untuk mencari keseimbangan.

— yang belum aku coba adalah sujud dihadapanNya, merunduk dihadapanNya, menangis dihadapanNya, merungkuk dihadapanNya, oh..Allah, maaf bukan maksud aku untuk melupakan Engkau. tapi setiap kali aku bersimpuh dihadapanNya dalam sholat, aku merasa begitu…hampa, kadang aku berfikir tak sudikah Dia jika aku dekat denganNya. Dan diri ini masih terlalu sombong untuk mengiyakan ajakan mencari mediator menuju makrifatullah, yang konon ketika kita telah mencapai makrifat, hidup kita akan seimbang, bweh!. Terus terang aku hanya ingin mencintaNya dengan sederhana, dengan jawaban yang sederhana pula ketika dimintai pertanggungjawaban dengan pertanyaan “siapa Tuhanmu?” — maka aku akan menjawab Allah SWT.

Seharusnya aku meminta pertimbangan kepada Engkau ya..Ya Allah, aku memang belum mencoba menanyakan atau tepatnya memohon kepada Engkau untuk memantapkan pilihan ini, karena memang terus terang… dalam hati selalu terbesit ungkapan “penting gak seh ha”. sX lagi– hanya karena tujuanQ ini masih setengah-setengah. Sungguh aku bingung dengan “tujuan” itu.

Walaupun kegalauan ini mempengaruhi etos kerja, tapi bukan berarti aku segera mengambil sikap. Well, kenapa ini? aku … terlalu berat untuk mengambil resiko. Humph…Resiko itu harus diambil, walaupun terkadang harus mengorbankan sesuatu, yaitu: teman, kekasih, keluarga, posisi, gaji, kemapanan, harta, cinta, musuh, poko’e semuanya deh…(iiiieeeeh…berlebih deh..gak nyampe segitu kaleee… xixixixixixi)

BODOHnya aku…bE segera ambil keputusan. lalu lakukan dengan sungguh-sungguh dan ingat kalimat “yang menyatukan ide dan realita adalah KERJA”. chayooo…

Waktu aku tinggal 6 bulan…cepat putuskan bE!

[updates…. 8 Agustus 2016]

dan hingga 9 tahun telah berlalu… tepat 8 bulan yang lalu, aku baru bisa memutuskan dengan tepat. Melangkah di atas awan itu aku rasa sebuah ungkapan yang memetaforakan “Oh… begini to rasanya… 8 bulan sudah…“, dan aku masih bisa untuk melanjutkan penjelajahan ini tanpa dia tapi dengan Dia.

Salam penjelajah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation