“Ketika Hidup Hanya Mampir Minum”

“apa yang tersisa
dari pergulatan rasa
hanya ruang hampa
yang ingin terus di sapa”
(Subagyo Sastrowardoyo)

Begitulah manusia, bisanya hanya merutuki atas nasib buruknya, hingga lupa dengan hal-hal baik yang pernah dialaminya. Sebut saja namanya Sronto, kenapa Sronto?, yo sak karepku to?!. Anggap saja Sronto merupakan manifestasi dari sebuah nasib. Yup, apa yang ada di benak penyasar jika melihat Sronto duduk termangu-mangu? Dengan mimik muka masgul, Sronto melayangkan pandangan kosong sesekali menarik nafas beratnya seolah-olah bumi pun bakalan runtuh menyambut hetakan nafanya. Orang yang melihat Sronto, pasti berpikir jika Sronto sedang mengalami masalah yang berat, sedang meratapi nasib. Nasib kok diratapi, buat apa nasib diratapi? Atau lagi merenungkan nasibnya, lantas buat apa nasib direnungkan?

Menggunakan kata meratap dalam konteks nasib sepertinya kok rada tidak pas, meratap secara harfiah oleh KBBI diartikan dengan menangis disertai dengan ucapan yang sangat menyedihkan. Kira-kira perlu tidak yaaa.. nasib itu kita ratapi?. Yaa.. lagi-lagi itu pilihan antara meratap dan merenung.

Nasib bisa baik bisa juga buruk. Dari sisi manusia, nasib itu seperti kejadian yang diluar ekspektasi kita, bisa buruk bisa jadi baik. Contoh nasib, ceritanya Sronto lagi ngikut tes seleksi kerja di kantor yang tergolong bonafit. Ada beberapa tahap seleksi yang harus dilewati Sronto, mulai dari tes psikologi hingga tes wawancara. Sebenernya Sronto sudah pesimis akan lolos tes, melihat saingannya terlihat perlente dan dari lulusan perguruan tinggi yang bonafit bahkan ada yang lulusan luar negeri. Tapi ternyata Srontolah yang diterima untuk kerja di perusahaan itu. Lalu Sronto akan bilang ini nasib baikku. Di sisi lain, sebut saja Srinti, untuk menghadapi tes ini dia menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, mulai dari penampilan sampai beli soal-soal latihan psikotes. Eh, Srinti malah enggak lolos. Kemudian Srinti akan bilang ini nasib burukku. Kasus Sronto dan Srinti bisa jadi para penyasar pernah mengalaminya, jika tidak secara langsung, yaaa… dapat ceritalah. Jika dilihat dari kacamata manusia yang hina ini, tentu seolah-olah Tuhan sudah enggak adil terhadap Srinti. Kemudian seorang penengah akan mengatakan “ah sudahlah… itu takdir?”.

Diskusi sedikit melebar dengan pertanyaan apa bedanya nasib dengan takdir?. Ada yang mengatakan manusia bisa mengubah nasibnya, sedangkan takdir sudah merupakan keputusan Tuhan. Takdir itu qadar, qudroh itu diluar nalar, hanya Allah SWT yang memegang kuncinya. Tapi, lagi-lagi manusia tidak akan pernah tahu akan nasibnya to?. (mungkin) bisa jadi nasib itu turunan atau produk dari takdir. wallahualam.

Cara kita dalam menyikapi nasib inilah yang membedakan (mungkin) nilai kita. Dalam kondisi yang termangu-mangu inilah, Srinti mempunyai dua pilihan yaitu meratapi atau merenungi nasibnya. Bisa jadi si Sriti akan depresi berat karena merasa gagal dalam tes masuk kerja padahal sudah disiapkan dengan baik, dikit-dikit meneteskan air mata lalu bercerita tentang kegagalannya kemana-mana plus bumbu-bumbu penyedap, inilah kondisi meratapi nasib. Atau Srinti memilih untuk bersikap lebih bijak dengan merenungkan nasib atas kegagalannya.

Apa yang perlu direnungkan?
Bisa dikatakan bahwa lolos atau tidak lolosnya Sronto maupun Srinti merupakan skenario besar yang terkadang berada di luar nalar kita. Dalam hal ini, perenungan Srinti akan membuahkan hasil jika apa yang direnungkan bukan berupa hasil keputusan “takdir” bahwa dia tidak lolos. Namun, perenungan itu berupa perkembangan kerjanya, ketangguhan maupun kerapuhan mentalnya, ketenangan atau kegalauan hatinya, pengolahan pikiran baiknya atau pembodohannya. Bila Srinti mampu mencapai tahap itu, maka metakognisi dalam mengelola hati dan pikirannya dapat menanggalkan tingakatan depresi atas pencapaian gagal.

Terkadang, bila kita merasa sangat gagal bahkan sudah berusaha semaksimal mungkin, ada perasaan menyanyat berupa kehampaan yang tidak dapat dideskripsikan dengan jelas. Saat itu, kita selalu mencari kambing hitam atas nama kegagalan. Terkadang Tuhan yang disalahkan atas ketidakmampuan kita dalam mencapai tujuan. Orang-orang yang seperti ini, mereka perlu mendapatkan tamparan pikiran dan nurani. Tuhan tidak pernah salah atas kejadian yang dialami oleh kita. Yang salah adalah otak kita yang telah memikirkannya. (pikiran nakal, siapakah yang menggerakkan otak ini? Tuhankah atau sebuah entitas yang menggerakkannya?). Lagi-lagi Plak!.

Bukankah, keteguhan jiwalah yang lagi di uji oleh Tuhan, keteguhan jiwa dalam rentang awal hingga akhir dalam menyelesaikan tugas itu lah yang menjadi tatangan terberat to?. Seberapa besar percaya diri kita untuk tetap bersikap rendah hati bahwa ini adalah tugas yang harus diselesaikan dengan baik dan benar.

Ada yang memberikan metafora bahwa pengalaman selama penugasan dari awal hingga akhir ini hanyalah sekedar “mampir minum”. Bisa jadi paribasan ini sudah umum kita dengar “urip iku mung mampir ngombe“, hidup itu hanyalah sekedar mampir minum. Begitu singkatnya hidup di dunia ini, hingga seolah-olah jika dibandingkan dengan waktu jagat maka hidup manusia itu ibaratnya hanya sekedar buat minum.

Sehingga, dalam waktu yang sesingkat ini kita akan mewarnainya dengan warna yang bagaimana itu adalah tugas kita. Hidup yang diibaratkan hanya mampir minum ini merupakan sebuah pengembaraan untuk mencari ketenangan dan kebenaran. Seorang pengembara (rurouni) memiliki makna yang luas. Pengembara tidak harus diartikan seseorang yang selalu singgah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tempat hanyalah sebuah materi. Seorang Rurouni dalam arti sesungguhnya adalah pengembaraan untuk mencari ketenangan dan kebenaran, dan setiap orang memiliki nilai ketenangan dan kebenaran yang berbeda-beda.

Perihal untuk mencapai tahap tenang pun setiap individu memiliki cara yang berbeda. Ah, penjelajah jadi mengalami memorial-flashback ketika memilih karate sebagai olahraga beladiri. Ada satu gerakan kata dasar 1 yang bernama Heian Shodan. Heian berarti “Pikiran Penuh Kedamaian”, shodan artinya satu. Ternyata gerakan ini memiliki makna yang begitu dalam, heian shodan adalah kata pertama dari lima rangkaian kata dasar. gerakan ini wajib dihapal, dikuasai, dan dirasakan..gerakannya menitikberatkan gerak kedepan dan pukulan maju…monoton memang. Tapi kalo dipraktekkan dengan benar, jurus ini cukup bisa membuat lumpuh seseorang. Osh… !.

Satu kesimpulan sementara dari penjelajah adalah jiwa-jiwa kering, pikiran-pikiran hampa, kolbu kolbu gelisah itu hanya ingin disapa oleh sesuatu, agar individu ini mencapai tahapan damai.

~salam damai dari penjelajah~

NB: Aku lampirin video Heian Shodan step by step slow motion…

https://www.youtube.com/watch?v=gNOZurEHH74

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation