“Full Day School” antara harapan dan kenyataan

people

Wajah pelajar yang ceria.Doc.pribadi

Pro dan Kontra Sekolah Sepanjang Hari menjadi treding topik beberapa hari ini menjelang kemerdekaan RI yang ke-71. Isu ini merebak sesaat setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru saja dilantik. Sistem ini diberlakukan untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), harapan bapak menteri diberlakukannya sistem sekolah sepanjang hari agar dapat membangun karakter anak. Ketidaksepakatan atas putusan Bapak menteri ini bahkan di petisikan melalui platform petisi terkemuka di dunia, change.org,  linknya bisa klik di sini. Petisi ini dibuat oleh orang tua yang merasa prihatin dengan kebijakan bapak Menteri. Di dalam petisi tersebut mengangkat tulisan Kang Hasan seorang guru yang turut mengkritisi kebijakan tersebut.

Menurut Kang Hasan, apabila sekolah sehari penuh diterapkan artinya akan merampas hak interaksi antara anak dan orang tua. Kondisi yang digambarkan oleh Pak Menteri yaitu orang tua sibuk bekerja, sehingga anak-anak lebih aman jika berada di bawah pengawasan guru. Rupanya pak Mentri ini mendapatkan ide sekolah sehari penuh dari negara Finlandia yang dipandang sukses sistem pendidikannya. Namun, menurut Kang Hasan, kondisi ini hanya berlaku di kota-kota besar, dan menurutnya Pak Mentri lupa bahwa 70% penduduk Indonesia ini masih tinggal di pedesaan.

Santernya kritik yang ditujukan kepada pak Mentri, seminggu kemudian (sepertinya kok) kebijakan ini bakalan dicabut, baca di sini.  Dari wacana yang diperoleh, sebetulnya kebijakan tambahan jam belajar ini akan menguntungkan guru dalam hal pemenuhan jam mengajar 24 jam demi urusan sertifikasi guru.

Di Jakarta, khususnya sekolah swasta, wacana full day school (sekolah satu hari) bukan suatu hal yang memberatkan. Penjelajah pernah mengajar di sebuah sekolah yang menerapkan sistem full day school. Sistem ini diterapkan untuk seluruh jenjang dari TK (tiga hari dalam lima hari sekolah), SD s.d SMA (lima hari sekolah). Ketika penjelajah maupun guru-guru pengajar di sekolah tersebut untuk memutuskan mengajar di sekolah yang menerapkan sistem tersebut, maka sudah menjadi konsekuensi logis dari jam bekerja. Lagipula, tidak setiap sekolah swasta di Jakarta menerapkan sistem full day school. Artinya, setiap calon guru dapat memilih sekolah jenis apa yang cocok pribadi masing-masing calon guru tersebut. Begitu pula orang tua, pasti memiliki tujuan ketika mengirimkan anaknya di sebuah sekolah tertentu, apakah full day school atau reguler.

Beberapa kawan guru penjelajah yang memiliki peran ganda baik sebagai orang tua sekaligus guru pun memiliki nuansa pro dan kontra. Masing-masing memiliki opini yang saling menguatkan. Penjelajah kutip opini dari salah satu kawan: “Sedikit menyimpulkan obrolan semalam…apapaun pekerjaanya ketika kita memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu, maka kita harus siap dengan konsekuensi managemen waktunya. Saya dibesarkan dari orang tua yang keduanya pegawai… nyaris juga ketemu ketika jam sudah diatas jam 3… tapi alhamdulillah komunikasi kami terjaga … didikan ortu juga menrut saya berhasil. Sedangkan suami dibesarkan oleh ortu pedagang yang keduanya stay di rumah. Tapi dari ceritanya komunikasi mereka tidak terlalu lancar. Jadi intinya bukan waktu… tapi kualitas waktu… Teman mari kita nikmati pilihan hidup kita… kita maknai kebersamaan dengan keluarga dalam artian masing-masing. Selamat beraktifitas… “. [Kawan penjelajah ini adalah seorang guru SMP di daerah Temanggung].

Dari opini diatas, seolah menyadarkan kepada kita.. atas konsekuensi pilihan hidup/tempat bekerja to(?!). Kualitas memang seolah-olah lebih penting dari kuantitas, namun jika antara kualitas dan kuantitas dapat seiring sejalan bukankah hal ini akan menjadi lebih harmonis to(?!). Berdasarkan opini tersebut, seolah kunci keberhasilan dalam pendidikan terletak pada keluarga. Tidak dapat dipungkiri memang, keluarga menjadi tolok ukur karakter seorang anak.

Bagi Penjelajah, sistem full day school akan lebih baik jika bukan menjadi sebuah kebijakan yang wajib untuk diterapkan. Setiap sekolah memiliki kebebasan dalam mengatur managemen internal, selama tidak menyimpang dari kurikulum yang berlaku. Orang tua pun bisa memilih sistem sekolah yang bagaimana yang dibutuhkan dan pas untuk perkembangan anak-anaknya. Saya kira, masing-masing dapat menjadi dewasa untuk menentukan tempat mana yang terbaik to(?!).

~Salam damai Penjelajah~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation