Dream Catcher:

Dream Catcher

https://www.pinterest.com/explore/dream-catcher-drawing/

Berawal dari jalan-jalan di perko (emperan toko) Malioboro-Jogja bareng teman, Gina, seorang solo traveler dari Korsel. Tiba-tiba dia bilang kalo dia mau cari dream-catcher dulu. Responku “aiigoooo… you cant find dream catcher here, this is not our culture“, lhaaa… baru mak klakep aku ngomong gitu, dia langsung nunjuk “Ikanaa… here is!”. Woooh, surprising me!. Ternyata benda ini dijual juga, Gina menemukannya, pas kami jalan di sepanjang Malioboro pas persis depan pintu keluar parkiran pasar Beringharjo (sebrang langsung ma Istana Negara).  Ada banyak variasi dream catcher yang dijual sama mas-masnya, mulai dari yang buletannya besar dan buletannya banyak berjuntai-juntai. Warna-warni pula. Hanya saja setiap item hanya memiliki satu warna (pink, coklat, merah, hijau, kuning). Harganya pun bervariasi yang buletannya besar harganya Rp55.000, kalo yang buletannya kecil berjuntai-juntai harganya Rp45.000. Bahan yang digunakan pakai tali knor-nilon dan bulu-bulu yang dipakai berasal dari bulu ayam deh…(mungkin)- aku gak tanya ke mase yang jualan. Gina memilih yang berjuntai-juntai warna pink (pesenan dari sodara perempuannya gitu katanya–). Setelah mengalami proses tawar menawar- aku tawar Rp20.000 gak dikasih, alhasil kena Rp25.000 buat satu item. Kata Gina, “it’s okay…!”. Yoweslah… padahal mau tak ajarin teknik nawar, pasang harga duapuluh trus pura-pura kita tinggal, nanti hayo rak dipanggil sama mase. Eh, Gina-nya gak mau. ^_^.

Aku jadi penasaran dengan benda ini, aku tahu dream catcher juga gara-gara nonton film eh drama korea. Yaitu semacam jimat buat nangkep mimpi yang bagus-bagus gitu…Makanya selama ini aku kira ini tradisi dari Korea. Ternyata salah besar… di Jogja pun juga ada. Lalu rasa penasaran aku limpahkan ke mesin pencari super canggih yang aku tahu saat ini, yaitu Google (gak usah pake mbah lah…). Wow, ada 14.600.000 per 0.88 second. Populer juga yaaa… dream catcher ini. Quote yang paling banyak dikaitkan dengan dream catcher ini adalah quote dari Eric Collier: “dream your dreams with your eyes closed, but live your dream with your eyes open“. Whoaam.. apa ini maksudnya yaa, kalo digubah ke bahasa Indonesia pakai bantuan google translate jadi aneh yaitu “memimpikan impian Anda dengan mata tertutup, tetapi hidup impian Anda dengan mata terbuka“. Opooo kie jal maksudnya!. Jika diartikan bebas loh yaa.. bebas menurut versiku, bermimpi itu penting karena memberikan kita waktu tenang untuk berpikir tentang apa yang kita inginkan dalam hidup– iya to?!. Nah, Ketika mata kita terbuka adalah waktu untuk mulai mengambil tindakan dalam hidup impian kita, yaitu mengubah pikiran-pikiran visioner menjadi goal dan kemudian menjadi kenyataan. Begitulah kira-kira maksud pak Eric Collier. Nah, penasarnku mengembang menjadi siapa Eric Collier itu?. Bertanya lagi ke Google, loooh kook, banyak banget, Eric yang mana nie?!. Namun ada satu Eric yang membuatku tertarik untuk menelusuri lebih dalam yaitu Eric Coollier seorang pelopor konsenvantoris hewan-hewan langka yang punah akibat ulah manusia. Ia bersama anak laki-lakinya Veasy tinggal di “tengah hutan” yeah.. pokoknya di daerah rimba lah (mungkin seperti Jean di film Tarzan itu loooh) untuk membuat jurnal yang akhirnya dipublikasikan New Yok.inc pada tahun 1959. Jurnal ini menjadi buku dengan judul THREE AGAINST The WILDERNESS.  Eh, kok melenceng dari topik yaa. Toh, setelah dibaca sekilas blognya James Steward yang ngupas tentang Eric Collier sepertinya enggak ada hubungan secara langsung dengan dream-catcher.

Lalu, berbagai pertanyaan timbul dari pikiranku. Apa itu sesungguhnya dream-catcher?. berasal dari mana tradisi jimat ini?. Kira-kira apakah dream catcher yang dijual di perko Malioboro juga ampuh buat menangkap mimpi-mimpi yang bagus-bagus biar bisa terwujud?. Berdasarkan berbagai referensi lisan dan tertulis, aku coba uraikan yaaak..

Apa itu dream-catcher?
Dari situs ini, dikatakan bahwa dream-catcher adalah “…are arts and crafts of the Native American people. The original web dream catcher of the Ojibwa was intended to teach natural wisdom….”. Biar lebih mudah untuk selanjutnya dream catcher aku singkat menjadi DC saja yaak. Disitu ditegaskan bahwa ternyata DC ini merupakan seni kerajinan tangan yang digunakan oleh orang Ojibwa (suku Indian dari Nort America) dan sudah digunakan sejak jaman Ojibwa kuno yang berfungsi sebagai penangkap mimpi.  DC ini biasanya digantungkan di atas tempat tidur atau dirumah, kalo di film korea di pintu kamar, atau bisa di mana saja yaitu untuk menjaring mimpi-mimpi. Kalo aslinya DC ini digantungkan di tubuh seseorang untuk melindungi orang itu dari mimpi buruk. Sebuah DC terbuat dari simpul kayu berbentuk lingkaran yang di dalamnya terdapat sebuah jaring anyaman dengan lubang di tengahnya. Di bagian bawah lingkaran kayu itu terdapat dua atau lebih bulu yang tergantung-gantung. Apabila digantungkan di atas orang yang sedang bermimpi, DC akan menyaring mimpi-mimpi dari udara malam, dan hanya akan membiarkan mimpi-mimpi yang baik dan pesan-pesan yang penting saja yang masuk ke dalam orang tersebut. Katanya setiap kali bulu-bulu pada sebuah DC itu bergerak saat seseorang tertidur, maka sebuah mimpi baik akan mendatangi orang itu. Katanya, setiap kali bulu-bulu dalam DC bergerak halus, maka sebuah mimpi baik akan mendatangi orang itu. Cara kerja DC dalam memberikan mimpi baik adalah orang-orang Ojibwa percaya jika mimpi yang baik akan nyangkut di jaring-jaringnya lalu turun melewati bulu-bulu yang menggantungnya (mungkin karena ini bulunya jadi gerak-gerak yaaak… – jadi geraknya bukan karena angin- yah.. ini faktor lain- Now, we are talking about believing rite?!)

Bagaiamana cara membuatnya?
Orang (suku) Ojibwa menggunakan ranting pohon Willow yang masih segar, batang jelatang, otot hewan dan bulu burung hantu. Suku Ojibwa membuat sebuah DC dengan cara membengkokkan ranting pohon Willow menjadi lingkaran, kemudian mengeringkan ranting tersebut untuk dijadikan sebagai bingkai. Lalu, mereka menggunakan batang jelatang untuk melilit bingkai lingkaran tadi dan membuat semacam jaring di tengah bingkai lingkaran menggunakan otot hewan. Langkah yang terakhir adalah Suku Ojibwa menggunakan bulu burung hantu untuk digantung menjadi semacam anting-anting pada lingkaran yang berjaring-jaring tadi. Kenapa harus burung Hantu?. Bisa jadi di daerah itu pada saat itu habitat burung hantu terbanyak, eh lagipula Owl adalah simbol kebijakan to?!. Yeeah… (mungkin) ada hubungannya (akan diulas dalam artikel lain).

 Seiring dengan perkembangan jaman, bahan-bahan untuk membuat DC ini mengalami perubahan. Dan akibat dari media serta teknologi DC ini telah mengalami ekspansi yang mendunia. Buktinya di Malioboro juga ada. Tentu DC yang dijual di di Malioboro tidak menggunakan bulu Burung Hantu (aku yakin itu… susahngedapetin burung Hantu di Jogja ^_^), dan kayu yang digunakan bukan batang dari pohon Willow, pastinya berasal dari bambu (aku yakin itu… ), lagian gak mungkin pula pakai otot hewan buat ngiketnya (aku yakin itu… kalo ini jelas banget pakai benang knor-nylon). Nah….

Seberapa ampuh DC ala Malioboro mampu menyaring mimpi-mimpimu?
Jawabannya “maaf, saya gak tahu”… ^_^.
Karena sepertinya DC sudah “sedikit” beralih fungsi, banyak asesoris yang memanfaat DC ini sebagai fashion yang digunakan oleh gadis-gadis. Sebut saja, kalung, gelang, anting, dll. Walaupun begitu masih ada juga loooh yang mempercanyai fungsi si DC ini, tidak peduli mendapatkannya dari mana, buktinya saudaranya Gina nitip oleh-oleh dari Jogja adalah sebuah DC. Jadi yang terpenting dari DC bukan bahan baku atau siapa yang membuatnya, akan tetapi sebuah kepercayaan yang sulit untuk dijelaskan secara nalar.

Demikianlah oleh-oleh dari penjelajah tentang pencarian makna sebuah penangkap mimpi. Bermimpilah setinggi langit dalam keheningan, lalu wujudkan mimpi-mimpimu melalui aksi nyata pada saat matamu terbuka. Karena yang menyatukan ide dan realita adalah kerja nyata (artinya usaha dengan bersungguh-sungguh), menyakini apa yang kita impikan mejadi perlu sebagai internal motivation. Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menemukan mimpi-mimpi terbaiknya. Bisa melalui DC, bisa melalui pohon harapan (bikin pohon — tulisin semua cita-cita dan harapan di setiap ranting2 pohon trus ditempel di tembok kamar), atau bisa melalui apa saja. Never kill your dream!. Kata sang maestro Fisika Albert Eisntein, Imagination is more important than knowledge!.

Semangat berjuang dalam mewujudkan mimpi-mimpimu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation