Cita-citaku ada di Pohon Harapanku

Pohon Harapan: Cita-citaku menjadi tentara, pemain bola, ...

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit, Nak..!” Begitulah biasanya para orang tua  “memotivasi” anak-anaknya untuk memberikan dorongan kepada si anak agar mempunyai tujuan dalam hidupnya kelak. Entah siapa yang pertama kali membuat paribahasan “gantunglah cita-citamu setinggi langit”. Tapi menurut sejarah, kalimat ini pernah terlontar dari pidato Bung Karno yang mampu membakar semangat generasi muda, bahwa cita-cita bangsa yang bernama kemerdekaan itu bukanlah sebuah utopi, namun harus diperjuangkan. Merdeka (mungkin) suatu hal yang sangat muluk dan tinggi dan tidak setiap masyarakat Indonesia pada waktu itu dapat untuk memimpikannya. Tetapi dengan keahlian Bung Karno dalam membakar semangat melalui pidato-pidatonya, seluruh lapisan generasi terutama para pemuda bangsa berjibaku untuk mewujutkan cita-cita yang setinggi langit ini, yaitu MERDEKA.

Tentang cita-cita yang setinggi langit ini, alhkisah sebuah mimpi dari seorang Negro dan seorang pendeta dari Negri Paman Sam, yaitu Martin Luther King (MLK). Apa mimpinya(?), Ya! sebuah mimpi yang sangat tinggi bagi kaum Negro di Negri itu pada saat itu, yaitu kesetaraan. Melalui sikap, ketekunannya dalam melakukan perlawanan tanpa kekerasan, pendampingan kepada kaumnya yang bersikap apatis terhadap perjuangannya, dan kepiawaiannya dalam memberikan pidato yang menyentuh telah mengubah cara pandang tidak hanya kaum Negro sendiri namun mempengaruhi kebijakan tentang kesetaraan sebagai warga negara. Pidatonya yang cukup memukau dan sangat terkenal yaitu: “I have a dream… that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: “We hold these truths to be self-evident; that all men are created equal…I have a dream that …“. Dia bukan pemikir yang cemerlang, hanya memiliki keinginan yang kuat dalam mewujudkan mimpinya, yaitu terciptanya kehidupan yang harmonis di seluruh dunia (antirasisme).

Masih tentang cita-cita setinggi langit, Alenia’s production tahun 2012 memproduksi film Denias. Di film ini mengisahkan seorang anak Papua yang bernama Denias (Albert Fakdawer) memiliki mimpi untuk terus tetap bersekolah. Karena kata Ibunya, “gunung pun takut dengan orang yang rajin dan pintar sekolah“. Bagi Denias yang tinggal di daerah pedalaman tentu bersekolah merupakan cita-citanya setinggi langit to(?). Bagaimana perjuangan seorang anak pedalaman untuk dapat sekolah diceritakan dengan sangat apik dalam film itu. Soundtrack nya juga menyentuh sekali: “…suatu hari ku pastikan diriku/akan pergi meraih cita-cita/…/Dari balik awan ku kejar impianku/Dari balik awan kan kugemgam matahari…/.

Setinggi langit kenapa harus setinggi langit(?), tinggi sekali langit itu, tentu akan banyak sekali kekhawatiran-kekhawatiran yang cukup beralasasan atau tanpa alasan kira-kira kana tercapai enggak ya(?). Toh, tidak setiap orang mempunyai tingkat keoptimisan yang sama to?!. Bisa jadi (mungkin) BUng Karno yang mengkreasi quote itu merasa bahwa pemuda bangsa pada masanya takut untuk membuat cita-cita atau takut untuk bercita-cita?. Atau jangan-jangan ada makna lain dibalik frasa setinggi langit itu?!. Sepertinya setiap orang bebas untuk memberikan nilai dari makna setinggi langit itu. 

Seperti halnya yang diceritakan di film “Cita-citaku setinggi Tanah“. Film besutan Eugene Panji ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Agus dari Munthilan yang bercita-cita untuk makan di warung Padang. Disaat kawan-kawannya memiliki cita-cita yang muluk yaitu tentara, dokter, pengacara, eh.. ada satu yang bercita-cita ingin mendapat pujian lantaran namanya Puji. Lha, si Agus bercita-cita ingin makan nasi Padang. Sontak cita-cita Agus ini menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Tapi, bagi si Agus sendiri yang berasal dari keluarga kurang beruntung dan bosan makan tempe bacem setiap harinya, nasi Padang yang konon sangat enak menjadi impiannya. Tentu tidak mudah bagi Agus untuk makan nasi Padang, karena artinya ia membutuhkan uang untuk membeli nasi Padang. Ketimpangan cita-cita inilah yang membuat si penulis skenario membuat judul film cita-citaku setinggi tanah. Sangat menarik untuk ditonton ulang.

[Dua film diatas yaitu Denias dan Cita-citaku setinggi tanah, menjadi rujukan buatjatumengisi liburan di bulan Ramadhan ini. Kedua film ini masih layak untuk dinikmati ditengah-tengah minimnya film-film anak yang bermutu].

Kembali lagi tentang cita-cita yang setinggi langit. Suatu hari, terjadi dialog antara guru dengan murid-murid yang sedang merancang sebuah kegiatan volunteer untuk kegiatan sekolah di sekolah-sekolah (SD) yang kurang beruntung. Guru tersebut meng-encourage murid untuk memikirkan kegiatan lain selain belajar bahasa Ingris bersama. Kegiatan ini bertemakan “cita-citaku” dan dalam kegiatan ini harus bisa memotivasi adek-adek SD untuk memiliki cita-cita.

(m1) kenapa harus setinggi langit sih… nanti kalo tidak kesampaian khan sakit kalo jatuh.. ketinggian.
(m2) masak setinggi tiang jemuran, kena angin badai terbang dong..
(m1) yaa.. setidaknya tiang jemuran khan gampang digapai..
(m2) ah.. tapi kan cita-cita harus tinggi, toh kalopun langit gak sampe masih ada matahari misal, atau bulan yang deketan ma Bumi, setidaknya ada alternatif lain gitu…
( g ) Hooo… hhmm… dengan memiliki cita-cita kalian berarti memiliki apa?
(m) harapan…
( g ) lalu… bagaimana mewujudkan harapan itu..
(m) berjuang, berusaha, belajar, berdoa….
(g) coba kalian buat metafora-metafora untuk berjuang, berusaha, belajar, berdoa, …
(m)….. Ohoooo… bagaimana degan ranting-ranting itu kita ibaratkan sebagai jalan menuju harapan atau cita-cita… maka kita punya yang namanya Pohon Harapan. Setuju tidaaaak…
(g) kenapa pohon harapan?
(m) karena ..pohon mewakili seluruh kehidupan manusia, trus batang itu adalah doa, nah.. ranting-ranting itu merepresentasikan perjuangan atau ikhtiar, motivasi, semangat, dan lain-lain…lagipula tidak terlalu tinggi setinggi langit dan tidak juga lemah selemah tiang gantungan. Lagipula isinya bisa harapan jangka panjang dan harapan jangka pendek. Bebas ajah… gimana?.. dan  Kita pilih pohon yang kuat okeee…

Begitulah, akhirnya “Pohon Harapan” menjadi semacam tradisi yang tidak mengikat untuk memberikan ataupun mengingatkan tentang harapan yang bisa berisi apa saja. Tidak harus dalam bentuk profesi yang muluk-muluk.. bisa berisi harapan-harapan sederhana yang yeaaah…. tidak perlu menjadi bahan ledekan seperti kisah Agus. Toh, setiap orang memiliki tingkatan cita-cita setinggi langit yang berbeda-beda to….

Artinya, tidak salah jika ada anak yang bercita-cita jadi Presiden.. loooh harapan dia berarti menjadi pemimpin yang handal, lha wong akan memimpin seluruh Negri ini. Ituuu gak salah… atau gak salah juuuga kalo ada anak yang bercita-cita makan tempe. Itu harapannya loooh… sapa tahu, dia jarang makan tempe karena makannya ayam melulu, bisa jadi di daerahnya tidak ada produksi tempe yang memadai. Gitu tooh….

Nah, berkaitan dengan cita-cita itu… ada pepatah yang mengatakan bermimpilah, karena dengan bermimpi kamu dapat menembus dunia!. Kata Nindji: “Mimpi adalah kunci”.

Ehmmm… belum selesai, Mimpi disini jangan diartikan sebagai bunga tidur yaaaa…. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation