Bahasa Indonesia ku

Membaca Surat kepada Redaksi yang ditulis oleh Widjarto Adwono di harian Kompas, 31 Agustus 2016 membuatku “sedikit” tersindir. Bapak Wono mengkritisi pola bahasa tutur kita saat ini yang menjadi kacau balau, seperti halnya perilaku penguna jalan raya yang tidak patuh terhadap peraturan lalu lintas. Memang rasanya terlalu digeneralisasikan, toh masih banyak looh yang patuh berlalin. Tapi bukan itu poin utamanya. Mari kita merefleksikan diri, hari ini sudah baikkan saya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik? (tidak perlu hingga SPOK). Dari baik itu, seberapa benar saya telah menggunakan bahasa Indonesia hari ini?. Tentu kedua kalimat saya sebelum ini kurang menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menjadi kondisi yang permisif ketika saya mengatakan “ah, saya toh bukan guru bahasa Indonesia”.

Words are the dress of thoughts; which should no more be presented in rags, tatters and dirt- Lord Chesterfield (1700); oleh pak Wono diterjemahkan dengan Kata-kata adalah busana pikiran; jangan ditampilkan dengan compang-camping, kecai-kecai, dan dekil. Melihat siapa yang berpendapat, dapat dibanyangkan Lord Chesterfield adalah seorang bangsawan Inggris yang pada jamannya tentu memiliki aturan sopan-santun dan tata karma kebangsawanan yang super ketat. Sehingga bisa jadi cermin pribadi seseorang dapat dinilai dari tutur bahasanya- namun quotes tadi berkesan sangat kaku. Aku engak setuju 100% tetapi juga tidak menolak mentah-mentah.

Beliau menyayangkan generasi muda yang kehilangan momen acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang pernah diasuh oleh JS Badudu dan Anton Moeliono, 38 tahun yang lalu (aku belum la lahir ke dunia yang fana ini ^_^). Menurut opini pak Wono, Bahasa Indonesia suatu hari akan punah jika ajaran JS Badudu dan Anton Moeliono tidak diperhatikan. Mengapa?. Pak Wono mengajak kita untuk melihat-lihat sekitar, Tidak sedikit ditemui iklan-iklan, pengumuman-pengumuman, bahkan telah merambah di instutusi pendidikan formal mapun non formal, kerapkali menggunakan promosi dengan pilihan kata yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terkadang bercampur pula dengan bahasa Inggris. Kekhawatiran pak Wono cukup beralasan juga, melihat sulitnya kita untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih lagi, menjamurnya sinetron-sinetron remaja yang mudah sekali untuk ditiru ini hampir tidak ada yang menggunakan pilihan kata dengan baik. Bahkan tidak sedikit orang tua modern saat ini, tidak mengajarkan anak-anaknya untuk berbahasa Indoensia dengan baik dan benar. Mereka memiliki pendapat “sepertinya anakku kalo ngomong pakai bahasa inggris kelihatan keren”. Menjamurnya lembaga bahasa khusus untuk anak (biasanya kalo di spanduk tertulis “Kursus Bahasa Inggris for Kids) telah mewadahi para orang tua yang menginginkan anaknya lancar atau bisa bahasa Inggris. Bahasa Indonesia karena merupakan bahasa Ibu, kadang diabaikan untuk dipelajari.

Sebuah fakta jika pencapaian nilai ujian Bahasa Inggris lebih tinggi daripada pencapaian nilai ujian Bahasa Indonesia. Beberapa muridku juga merasa lebih terampil membuat esay dalam bahasa Inggris dibandingkan dalam bahasa Indonesia. Stereotip bahasa Inggris lebih intelektual dibandingkan dengan bahasa Indonesia, seringkali keluar sebagai candaan bahwa bahasa Inggris = bahasa intelek. Selain itu, beberapa kali saya mengoreksi proposal kegiatan (tentu dalam bahasa Indonesia), masih menemukan struktur kalimat dan pilihan kata yang tidak pas. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, bukanlah berlebihan jika bahasa Indonesia suatu saat akan punah.

Aih, saya sedikit tertampar, selama ini masih sok-sok an inggris. Hmmm… tapi pakai bahasa Inggris di beberapa postingan ini, penjelajah tidak bermaksud untuk sok-sokan. Karena ada beberapa frasa yang rasanya lebih enak apabila disampaikan ke dalam bahasa inggris. Contoh: passion of love; hayok opo rek bahasa Indonesianya?.. jadi aneh kalo di Indonesiakan. (Cuma buat pembelaan diri). Hehehehe..

Sumpah Pemuda

Kami Putra dan Putri Indonesia, bertanah air satu Tanah Air Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia, berbangsa satu Bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia

Sehingga, Pak Wono mengingatkan kepada kita semua “Demi bahasa persatuan, marilah kita kembali berbahasa Indonesia dengan baik dan benar”

~Salam damai dari Penjelajah~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation