Antara Siti Khadijah dan Pelacur

-Puisi ini aku catut dari Jurnal perempuan, edisi lupa-
Bila kau bertanya padaku,
perempuan seperti apakah aku ini,maka kujawab dalam keluguanku,
bahwa aku perempuan biasa saja…
Aku bukanlah Siti Khadijah,
perempuan solehah yang menjadi idola sang Nabi,
perempuan yang menjadi acuan tertinggi kaumku,
perempuan yang penuh pengabdian dalam hidupnya…
Bila kau bertanya lagi,
akan seperti apakah aku jadinya nanti,maka kan kujawab,
cukuplah aku menjadi pelacur yang masuk surga,
hanya karena kebaikannya memberi minum anjing yangkehausan…
Aku tak pernah bermimpi muluk sebagai perempuan,
aku tak pernah memasang pikiran untuk menjadi perempuan sempurna,
inilah aku,perempuan biasa yang penuh kekurangan…
Aku yakin,bahwa sebuah ajaran tak pernah mengkotak-kotakkan manusia,
dalam kriteria baik dan jelek, hitam dan putih,
karena Tuhan mempunyai pertimbangan sendiri,
dalam menentukan nasib umatNya,
juga umat perempuanNya
Aku yakin,
bahwa sebuah keyakinan adalah hubungan antara manusia dan tuhannya,
bukan terpatok oleh ukuran manusia biasa…
Ulangilah bertanya padaku,
maka tetap kan kujawab,aku bukanlah Siti Khadijah,
sang perempuan agung yang menjadi idola kaum pria saat menunaikan tugas
kemanusiannya dalam hidup …
Cukuplah aku menjadi pelacur yang masuk surga,
hanya karena kebaikan setitik…
-Ernawati-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation