Ada Cinta di Lembu (ACDL)

1473129232933

Langit Mackerel, menandakan hari ini akan cerah. Diambil pagi hari di atas Rock Tribune. Doc.Novnov

“Ada cinta di Lembu”, cinta akan menjadi bebas nilai tergantung kepada siapa saja yang akan memaknainya. Bagiku cinta itu seperti ketika aku mendaki gunung Lembu, berat dan sulit, tapi sungguh aku tak sabar untuk mencapai titik nol.

Buat yang sudah professional jalur trekking Lembu bisa jadi biasa saja- kurang menantang. Namun, bagi aku­ yang amatiran ditambah dengan kondisi fisik yang kurang stabil, bukan hal yang mudah untuk mendaki gunung dengan ketinggian 729 mdpl ini. Begitulah cinta menurut versiku, terjal-sulit-rumit-musingin-penuh tantangan-bikin deg2an-bikin gemeteran- tapi ketika sampai di titik nol, perasaan bahagia membuncah dan sesaat kurapalkan sebuah doa “Tuhan, ijinkan aku bersama dia kelak untuk menikmati proses terbitnya aruna dalam suatu hubungan yang intim, ijinkan aku kelak untuk dapat mensandarkan kepalaku ke bahunya dan dia merengkuhku dengan kesadaran utuh lalu kami pun akan mengucapkan syukur nikmat apa dari Engkau yang tak dapat kami dustakan bersama-sama”. Ah doa itu bagai oase dalam fatamorgana cinta.

Selalu terngiang dengan ucapan Soe Hok Gie “Menaklukan Gunung Slamet” dalam Kompas, 14 September 1967 (tertuliskan di halaman hal 66, Catatan Seorang Demonstran):

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalo ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”

Yaaa… karena itulah aku memutuskan naik gunung Lembu—aku ingin sehat enggak hanya secara somatis namun pikiran dan jiwa. Selain itu, melalui perjalanan ini, ada hal yang ingin kupastikan dari sebuah parameter yang muncul tiba-tiba (accidentally), aku ingin mengenalnya secara utuh. Kemudian menjadi dilematis karena disaat yang bersamaan ada kawan yang mengajak untuk freediving ke Pramuka (jangan berpikiran aku udah bisa loooh ya, baru berlatih dan pengen dipraktekin di laut—praktek ngambang ^_^). Dilematis sungguh. Separo hatiku sebetulnya ingin sekali “membatalkan”  janji trekking ke Lembu. Ohya, beberapa skenario sudah aku siapkan untuk membatalkannya. Tetapi, rupanya Tuhan berkehendak lain, ada skenario dari Nya yang membuat aku dapat membulatkan hati untuk pergi ke gunung. Hehehehe… setidaknya aku bisa jujur disini. Peace brader!.

Dan inilah kisah kami, Enam Gadis Pendaki Berkrudung yang Cantik dan Seorang Penjaga yang Baik Hati…

Sabtu, 3 September 2016, jam 6pm aku masih di Rambutan menemui Ibuk yang tiba2 datang ke Jakarta, padahal aku belum packing untuk persiapan ke Lembu. Aku berusaha membuat kontak dengan Rita (yang akhirnya ikut, keputusan Rita untuk ikut baru diikrarkan sekitar 4 jam yang lalu). Hani gak bisa dihubungi (sepertinya, dia baru datang ke kondangan, Han memang sudah bilang kalo mau kondangan dulu sebelum berangkat ke Lembu). Tapi aku ingin mempercepat waktu pertemuan dengan Han, sehingga aku coba kontak dia sebelum jam 6pm, dan gagal. Karena sudah terlanjur di Rambutan, rencananya aku akan jemput Han dan Rita langsung ke terminal Rambutan, tanpa harus ke Depok dahulu, biar gak bolak-balik (kos aku ada di Depok). Jam 6.15pm dapat kabar dari Han, kalo dia mau naek commuter line saja. Lalu aku bilang turun Pocin jangan Tanjung Barat, akhirnya Rita barengan sama Han untuk naek commuter line. Sedangkan Fo, dengan setia nunggu kabar dari aku di kos.

Sampai di kos jam 8pm, belum ada kabar dari Han dan Rita, artinya aku masih ada waktu untuk packing dan kali ini tak banyak barang yang aku bawa. Rencana akan ngeCamp sepertinya tidak jadi- kami hanya akan tik-tok untuk trekking kali ini. Sehingga aku hanya membawa satu stel baju ganti dan cream-cream wajib dibawa kalo lagi perjalanan. Enggak sampai 3 menit semua kebutuhan udah masuk ke tas orange kesayangku. Selang beberapa detik kemudian aku terima kabar kalo Rita dan Han udah sampai di Pocin lewat whatsapp. Yeaiyaaaa….. pas jam 8.30pm, kami berempat- perempuan berkrudung (aku lagi on going, hehehehe)- ditemani tante Mazda- akan menempuh perjalanan sejauh Jakarta-Purwakarta. Buatkuuuu……… ini jarak terjauh yang pernah aku tempuh sebagai sopir (biasanya cuma duduk manis). Okelah… niat memang udah bulat maka ini bukan hal yang berat buat dijalanin. #lebay hehehehe…

Kurang lebih 2,5 jam Jakarta-pintu keluar tol Purbaleunyi, cukuplah… kami sempet istirahat di km 57 untuk beberapa saat kok. Enggak sempet eksplorasi di rest area ini, jadi aku gak bisa kasih rekomendasi apapun. Hmm… hanya saja harga teh panas Rp7.000,00, beli di boots makanan ringan. Cukup murah (mungkin). Trekking kali ini, kami akan bergabung dengan kawan dari Bandung. Mereka bertiga, dua perempuan dan satu pria di Cebeleut (eh… apa ya namanya, parkiran rumah makan di ujung pertigaan, keliatan banget pas keluar dari tol).

Akhirnya, setelah beberapa menit menunggu di parkir RM.C, koordinasi beberapa saat, langsung melanjutkan perjalanan ke Gunung Lembu. Dari arah RM.C, ambil jalan ke arah kiri, jalan lurus saja. Kondisi jalan sudah bersapal dan bagus (hampir tidak ditemukan jalan yang berlubang maupun rusak). Kami sempat nyasar, pas bertemu dengan pertigaan pertama, seharusnya ambil jalan lurus yang bersapal, bukan belok kanan seperti arahan dari GPS.

Ohya, berkaitan dengan GPS, mesin ini akan bekerja sesuai dengan koordinat yang kita masukkan to?. Aku rasa kenapa kami bisa nyasar, bukan karena salah si mesin dalam membaca data, namun kami (mungkin) salah dalam menginput data. Sebaiknya input data itu “parkiran Gunung Lembu”, bukan “Gunung Lembu” saja. Jadi, enggak salah sih, kalo GPS ngarahin kami untuk belok kanan, karena memang lokasi gunung Lembu ada di sana. Tapi khan ada pintu khusus untuk mengakses jalur pendakian. Sehingga harus lebih spesifik kalo menginput data di mesin GPS. Kalo aku pribadi lebih percaya GPS manual dibandingkan GPS mesin. Apa ya bedanya?. GPS manual itu Gunakan Penduduk Setempat. Kalo GPS mesin itu Global Positioning System.

20160904_103138Waktu jam tangan aku menunjukkan pukul 14.05 pas sampai di parkiran pintu gerbang jalur pendakian Gunung Lembu. Hmmm…. Menurutku, penduduk setempat mengelola tempat ini lumayan informatif. Ada info-graph yang menjelaskan secara singkat tentang Gunung Lembu. Proses terbentuknya sumbat lava di tepian danau Jatiluhur. Lalu mengapa disebut dengan gunung Lembu?. Karena ternyata bila dilihat dari arah timur, bentuk bukit batu itu seperti lembu yang sedang duduk di bawah. Ohya, target pendakian selain gunung Lembu, di area ini ada gunung Parang dan gunung Bongkok yang tidak kalah menariknya untuk dicoba. Kedua gunung tersebut terlihat jelas dari gunung Lembu. Parang-Bongkok-Lembu, tiga serangkai yang bisa tuuuh… buat menguji stamina.

Selain itu, jangan khawatir untuk kehabisan rangsum atau logistik. Banyak warung yang menjajakan makanan ringan dan minuman serta mie di setiap pos, total pos ada 3 (pos 1 parkiran dan pos 2 dan pos 3 berada di jalur pendakian). Persiapan trekking enggak banyak, hanya siapin fisik dan logistik serta air mineral secukupnya. Di atas, memang tidak akan ditemukan sumber mata air, namun tadi sudah aku sebutkan kalo ada warung di setiap pos, jadi jangan khawatir.

20160904_091057

Sudah disiapkan tali koook. Doc.pribadi

Namun, tetap air buat ngeteh atau ngopi di titik nol perlu disiapkan to?!. Agar perjalanan lancar dan enggak terserang encok tiba-tiba, kami bertujuh melakukan pemanasan dulu. Pemanansan kebetulan yang mimpin si Haf (satu-satunya pria dalam rombongan ini)- lumayan lah. Setelah pemanasan lalu berdoa dan let’s go!!. Ohya, untuk tiket cukup murah yaitu Rp10.000 per orang. Muuraaaaah bangeeeeet… dibandingkan kalo kita mau trekking ke Papandayan.

Gunung dengan ketinggian tidak lebih dari 1.000 mdpl ini memang memiliki medan yang cukup terjal.

20160904_095117

Ini yaaaa… kalooo hujaaan luuuiiiiciiin. Doc.Pribadi

Bahkan di beberapa titik, penyasar akan menemukan tanjakan yang cukup curam. Namun, jangan khawatir, bagi pemula, disediakan tali tambang kok. Karena kondisi habis hujan, maka jalur trekking yang berkontur tanah lumayan licin untuk dilalui. Penyasar perlu ekstra hati-hati pada saat melewatinya, ada sedikit tips ketika melewati jalur yang licin. (1) Cari batang kayu yang cukup kokoh (kalo punya…. Itu lebih baik- tapi kalo aku pake … malah lebih ribet jalannya) untuk membantu menopang keeimbangan badan kita; (2) kalo cukup lincah, cari pijakan yang berumput- biasanya samping kanan atau kiri banyak rumput2 tanaman perdu atau rontokan daun bamboo- gunakan itu untuk meminimalisir licinnya tanah yang basah; (3) gunakan sepatu atau sandal gunung dengan radial yang oke- tidak direkomendasikan menggunakan sandal jepit (tapi yaaaa…. dulu ini dulu, untuk jalur seperti ini, aku menggunakan sandal merek swallow itu sangat ampoh—atau sekalian enggak perlu pake sandal/sepatu, tapi ini di luar risk management yaaah… jangan ditiru); dan terakhir kalo mentok ketiga cara diatas enggak mempan… glosor aja deeeeh… paling baju kamu yang kotor, ada butiran pembersih noda- solusi dari baju kotor. Apa sih yang tak bisa dilakukan oleh teknologi saat ini?. Mendingan glosor- enggak perlu malu, daripada kepleset-jatuh-yaaa… kalo jatuhnya bener, kalo jatuhnya salah. (Mungkin) enggak terasaa saat itu, efek kedepan yang tidak ndak tahu. [caution: yang menulis ini adalah seorang amatir- sehingga peluang untuk salah sangat besar…. Wajib hukumnya untuk konfirmasi ke yang professional berkaitan dengan tips dalam melakukan pendakian].

20160904_100417

Camping ground letaknya dibawah sih… ada MCK nya juga kok. Doc.Pribadi

Selama perjalanan, beberapa lokasi ditemukan tempat untuk ngecamp. Sebetulnya bisa saja ngecamp di gunung Lembu, tapi kalo boleh saran sih… ngeCampnya di bawah saja dekat dengan sumber mata air. Semakin ke atas sepertinya sulit untuk ditemukan sumber mata air deh, atau bahkan tidak ada. Kenapa yaa… bisa begitu?. Apakah ini karena ada gunung ini terbentuk karena adanya lava yang tersumbat di dalamnya?. #eh ada hubungannya gak sih?.. (males cari info— ntar updates saja lah… hehehehe).

20160904_074335

Nama aslinya adalah Batu Lembu-titik nol-Rock Tribune. Doc.Pribadi

Kurang lebih 1,5 jam buat kami bertujuh untuk sampai ke sebuah batu yang besaaaar sekali (nampung orang sekitar 100). TITIK NOL, Aku namain ini adalah “Rock Tribun”. Bener-bener seperti tribun raksasa. Bayangkan sebuah tribun yang terbuat dari baru besar bongkahan hasil dari letusan gunung berapi, sengaja dibuat oleh Nya secara alamiah untuk kita (manusia) mengagumi Maha Karya Agung. Mata ini leluasa memandang jauh kedepan dengan ikrarku kupancangkan niat tunggu dulu… /dan aku mulai takut terbawa cinta/menghirup rindu yang sesakkan dada../ #ehLoh.

Aku rasa aku gak akan berlebihan, siapapun akan menyepakatiku, berdiri di tribun ini dan layangkan pandangan kedepan sejauh mungkin. Rasakan angin yang menerpa wajah kita kadang lembut kadang menusuk. Aku sangat bersyukur dengan anugrah dua jendela mata yang bisa kumanfaatkan untuk menikmati teater maha agung dari Sang Pencipta. Dalam hati kusenandungkan …/Jalanku hampa dan kusentuh dia/terasa hangat oh didalam hati/kupegang erat dan kuhalangi waktu/tak urung jua melihatnya pergi/.

Sampai di Rock Tribun jam tanganku masih menunjukkan jam 3.55am. Aku mencari posisi yang buatku nyaman untuk rebahan- yup, tempatku lumayan di pojok kiri atas, bukan batu teratas. Kurebahkan badan dan kunikmati langit pagi ini. Taburan bintang di langit (enggak seindah pas aku di Pulau Pari), soalnya saat itu di Lembu sedikit berawan tipis. Tapi setidaknya Orion lengkap jelas, Pleiades lumayan jelas, sagitarius enggak lengkap… dapet meteor satuuuu….. langsung make a wish akoooo!. I wish someday, he’ll stand by me in the mountain as belong to me for real!. Hahahahahaha….. #remember how old I am. Bukan itu intinya!. Begitu jauhnya bintang-bintang itu, begitu luasnya jagat ini. Have you ever ask, why do we exist?. Have you ever try to compare us?, why is there something rather than nothing?. #argh.. Can you imagine that we just like a dust in the universe, we are nothing. Lama-lama aku gak sadar (mungkin) aku sudah terlelap dalam imaginasi yang liar.

Terjaga karena suara gemerincing kaleng… haiiih… ada pendatang rupanya. Tapi memang harus terjaga, aku bilang rugi jika tidak. Sepertinya moment menit-menit ketika matahari mengintip dari cakrawala inilah yang ditunggu-tunggu oleh para pendaki yang rela melakukan pendakian setelah tengah malam. Secangkir kopi hitam manis (terlalu manis— sacetan soalnya), menemaniku untuk menyambut sinar 8 menit pertama di bumi ini. Aku sungguh menikmatinya, perlahan namun pasti, sinar sang aruna memantulkan benda-benda di permukaan bumi, sehingga objek yang beberapa menit lalu masih tampak samar kemudian menjadi jelas, Oh… Jatiluhur!, Luuuaaaasssnyaaaaaa……

#Ah, sang aruna pun semakin angkuh menjejakkan jalur trek nya menuju zenith. Semakin jelas pula objek-objek di sekitarku menampakkan sosok-sosok yang beragam. Rock Tribun ini pun menjadi saksi bisu untuk sebuah ajang perkenalan sesama pendaki. Enggak bisa dinafikkan, pasti ada yang berpeluang mendapatkan jodoh dalam ajang itu. Aku memilih menjadi pengamat- gelora muda mengepung esensi pendakian. Setiap pendaki pasti memiliki tujuan. Okey, selfie (mungkin) bisa menjadi salah satu tujuan, buat eksistensi di dunia yang serba membutuhkan pengakuan (eksis). Tak mudah bagiku menemukan spirit mendaki, karena yang nampak dihadapanku adalah spirit untuk selfie atau pengabadian ke dalam gambar yang direpresentasikan menjadi ribuan pixel.

Apakah kegiatan mendaki yang menjadi pondasi Gie dalam mencari makna cinta masih bisa kutemukan di Lembu ini?. /Tak pernah kuragu dan slalu kuingat/kerlingan matamu dan sentuhan hangat/ku saat itu takut mencari makna/tumbuhkan rasa yang sesakkan dada/.

Melalui perjalanan memang bisa mempererat atau memperjelas suatu hubungan. Perjalanan ke gunung bisa jadi merupakan simbol dari pencarian cinta yang hakiki, namun bisa juga menjadi sebuah perjalanan yang biasa saja. Semua itu tergantung dari siapa yang bisa memaknai sebuah perjalanan. Sahabat baru bisa jadi akan lahir dari sebuah perjalanan, semangat baru bisa jadi menjadi spirit dalam melakukan aktivitas selanjutnya- yaitu sebuah optimisme. Bagiku perjalanan kali ini adalah symbol dari perlawanan rasa untuk membuktikan sebuah parameter yang muncul tiba-tiba. /kau datang dan pergi/oh begitu saja….

1472974851085

Enam perempuan pendaki berkrudung yang cantik dan Pria Penjaga yang baik hati. Doc.Novnov

Catatan:

Lalu apa bentuk kepastian dari parameter itu?. #Ah, biarkan ia menjadi bilangan 137. Biarkan tetap menjadi misteri, karna toh selalu ada cerita manis di dalam setiap perjalanan to?!

Alasan back-note quote dari Soe Hoe Gie adalah aku sepakat dengan Gie, kita akan mencintai seseorang maupun sesuatu dengan sehat jika kita mengenalnya dengan baik dan dekat. (mungkin) aku pun akan jatuh hati dengan Gie di masanya, sayangnya Gie hingga akhir hayatnya tak dapat memutuskan dengan pasti siapa perempuan pilihannya. Lalu, inikah alasanku tuk menyukai pria yang selalu memandang gunung?

Alasan “Ruang Rindu” kujadikan back song cerita ini. /kau datang dan pergi/oh begitu saja… “kau” sebuah parameter dari variable bebas… bisa seseorang, bisa keimanan, bisa keyakinan, bisa apapaun… tergantung kedalaman pikiran seseorang yang akan memaknainya. Selain itu, aku suka lagi ini.

Alasan Enam perempuan pendaki berkrudung yang cantik dan Pria Penjaga yang baik hati; sebagai satu-satunya pria dalam kelompok ini, Haf bener-bener sebagai penjaga buat perempuan-perempuan pendaki yang cantik-cantik ini. #VersiLebay. 

~salam damai dari penjelajah. Sayangi bumi karena ini titipan, bukan warisan~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation